Prestasi dalam olahraga tidak pernah lahir secara instan. Ia dibangun melalui proses panjang, konsistensi kompetisi, dan ekosistem yang memberi ruang bertumbuh bagi atlet sejak usia dini. Dalam konteks golf nasional, Indonesia kini berada pada fase penting: menyadari bahwa keberhasilan di panggung internasional hanya mungkin dicapai jika fondasi pengembangan junior, amatir, hingga profesional yang dibangun secara terstruktur dan berkelanjutan. Di sinilah Indonesia Development Tour (IDT) menemukan relevansinya.

Golf adalah olahraga dengan karakter unik. Jam terbang, ketahanan mental, dan pengalaman bertanding sering kali lebih menentukan daripada bakat semata. Namun selama bertahun-tahun, Indonesia menghadapi tantangan klasik: minimnya turnamen berjenjang yang konsisten, terutama di fase transisi dari junior ke amatir elite dan dari amatir ke profesional. Akibatnya, banyak pegolf bertalenta terhenti bukan karena kurang kemampuan, melainkan karena kurangnya arena untuk berkembang. IDT hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut—bukan sekadar kompetisi, tetapi sebuah roadmap pembinaan.
Indonesia Development Tour dirancang dengan struktur yang inklusif dan progresif. Melalui beberapa seri, durasi pertandingan multi-hari, serta pembagian kategori yang mencakup junior, rookie, amatir, elite amatir, hingga profesional baik pria maupun wanita sehingga IDT menciptakan atmosfer kompetisi yang mendekati standar internasional. Bagi junior, ini adalah ruang belajar yang membentuk karakter dan mental tanding. Bagi amatir, IDT menjadi tolok ukur kesiapan naik kelas. Sementara bagi profesional, turnamen ini menjaga ritme kompetisi dan ketajaman performa.
Urgensi pengembangan seperti ini menjadi semakin jelas jika melihat ekosistem golf Thailand. Negara tersebut telah lama menjadikan kompetisi sebagai budaya. Junior di Thailand terbiasa mengikuti belasan hingga puluhan turnamen setiap tahun, dengan jalur yang terhubung ke peringkat internasional seperti World Amateur Golf Ranking. Program pengembangan tidak berhenti pada atlet, tetapi juga mencakup pelatih, komunitas, dan akses masyarakat. Hasilnya nyata: Thailand secara konsisten melahirkan pegolf yang siap bersaing di Asian Tour, LPGA, hingga panggung global. Bukan karena satu program besar, melainkan karena sistem yang hidup dan berlapis.

“Di Thailand, terdapat sekitar 10 turnamen setiap tahunnya, ditambah dua turnamen besar untuk kategori pria serta 20 hingga 30 turnamen lainnya. Hal ini membuat bermain turnamen menjadi sesuatu yang rutin dan biasa bagi para pemain. Sementara di Indonesia, jumlah turnamen amatir masih lebih banyak dibandingkan turnamen profesional. Inilah yang membuat pemain di Thailand berkembang lebih cepat dan mampu bermain lebih baik. Dengan momentum yang dimiliki Indonesia Development Tour (IDT)—baik untuk junior, amatir, maupun profesional—kita memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem golf yang jauh lebih baik dan berkelanjutan.” ujar Putri Amani, Pegolf profesional wanita sekaligus Brand Ambassador Indonesia Development Tour
Pendekatan serupa juga dapat ditemukan di cabang olahraga lain, seperti tenis. Janice Tjen, petenis putri Indonesia, menjadi contoh konkret bagaimana dukungan ekosistem mampu mengantarkan atlet ke level dunia. Prestasi Janice di kancah internasional—mulai dari gelar turnamen, lonjakan peringkat dunia, hingga penampilan di ajang Grand Slam—tidak lahir dalam ruang hampa. Ia tumbuh melalui kombinasi pembinaan jangka panjang, dukungan korporasi, kepercayaan federasi, serta apresiasi masyarakat tenis Indonesia yang semakin dewasa dalam mendukung atletnya.
Keberhasilan Janice menunjukkan satu hal penting: ketika atlet diberi kesempatan bertanding yang cukup, dukungan finansial yang memadai, dan kepercayaan publik, prestasi akan menemukan jalannya. Dampaknya pun meluas—menghidupkan kembali minat generasi muda, meningkatkan kepercayaan sponsor, dan membangun kebanggaan nasional. Prinsip inilah yang sejalan dengan semangat Indonesia Development Tour.

Lebih dari sekadar kalender turnamen, IDT adalah upaya membangun budaya kompetisi. Budaya di mana atlet terbiasa bertanding, belajar dari kegagalan, dan berkembang melalui proses. Budaya yang menempatkan pria dan wanita pada jalur pengembangan yang setara. Budaya yang memandang prestasi bukan sebagai tujuan sesaat, melainkan hasil dari sistem yang konsisten.
“Perhatian utama tentu bukan sekadar membandingkan prestasi dengan negara lain, melainkan bagaimana membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan. Ekosistem ini mencakup teknik, teknologi, cara kerja yang profesional, serta sistem pendukung yang saling terhubung. Dengan ekosistem yang tepat, IDT tidak hanya menawarkan fasilitas yang canggih, tetapi juga membentuk pola latihan dan performa yang berorientasi pada kemenangan. Inilah pembeda utama, bagaimana ekosistem ini mampu mendorong peningkatan performa secara nyata.” kata Benita Kasiadi, pegolf dan pwlatih golf profesional serta Brand Ambassador IDT
Di tengah persaingan olahraga Asia yang semakin ketat, Indonesia tidak kekurangan talenta. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berinvestasi pada proses. Indonesia Development Tour menegaskan bahwa masa depan golf nasional dibangun hari ini, melalui struktur yang jelas, kesempatan yang adil, dan keyakinan bahwa prestasi besar selalu berawal dari fondasi yang kuat.

Namun, seberapa konsisten IDT akan dijalankan ke depan? Keberhasilan sebuah tur tidak ditentukan oleh satu musim, melainkan oleh komitmen jangka panjang. Dukungan federasi menjadi kunci dalam menjaga standar kompetisi, sementara ketersediaan lapangan dan kesiapan penyelenggara menentukan kualitas pengalaman bertanding. Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat golf Indonesia termasuk klub, sponsor, media, hingga penonton, akan menjadi penopang utama agar IDT tidak sekadar hadir, tetapi tumbuh sebagai ekosistem. Sebab, seperti yang telah ditunjukkan Thailand dan cabang olahraga lain, prestasi lahir dari konsistensi, kolaborasi, dan keyakinan bahwa turnamen domestik adalah fondasi menuju panggung dunia.
