Nama Amira Ajda Khairunnisa Permadi menorehkan babak baru dalam perkembangan golf junior Indonesia. Di usia 11 tahun, 4 bulan, dan 4 hari, Amira menjadi pegolf termuda Indonesia yang meraih poin World Amateur Golf Ranking (WAGR) setelah menjuarai IJG Premier League 7 di Riverside Golf Club, Bojong Nangka, Depok, Jawa Barat.
Turnamen yang berlangsung pada 14–16 Agustus tersebut menjadi panggung penting bagi Amira. Ia meraih gelar Best Gross Overall setelah membukukan total 4-over 220 dalam tiga putaran, unggul 11 pukulan atas Isabella Sudarmanto yang finis dengan 231.

”Saya merasa sangat senang dan bersemangat bisa menjuarai IJG Premier League 7. Ini juga pertama kalinya saya bisa memenangkan Best Gross Overall dan mendapatkan poin WAGR,”
”Saya sangat senang dan bangga bisa menjuarai IJG Premier League 7. Ini juga pertama kalinya saya meraih Best Gross Overall dan mendapatkan poin WAGR,”
Performa Amira sudah terlihat sejak dua putaran pertama. Ia menjadi satu-satunya pemain yang mampu mempertahankan skor even par, masing-masing 72 pada dua ronde awal. Di lapangan rancangan legenda golf Australia, Greg Norman, tersebut, Amira juga tampil konsisten dengan mencatatkan 13 birdie, terbanyak di antara seluruh peserta.
Approach shot yang solid menjadi salah satu senjata utamanya. Namun, selain kemampuan teknis, Amira juga mampu menjaga fokus ketika permainan mulai tidak berjalan sesuai rencana.
”Saya hanya berusaha untuk fokus pada diri sendiri agar tidak terdistraksi oleh pemain lain dan supaya tidak langsung kecewa setelah melakukan kesalahan,”
Pada putaran final, Amira sempat berada di posisi 1-under setelah membuat birdie di hole 15, hole pertamanya hari itu. Permainannya kemudian sedikit menurun dengan tambahan 4-over dalam lima hole berikutnya. Ia tidak membiarkan momentum tersebut mengganggu permainan dan kembali mencetak birdie di hole 3 dan 5.
Empat hole terakhir kembali menjadi ujian. Amira mencatat 3-over, termasuk bogey di hole terakhir ketika kondisi lapangan mulai gelap. Namun, keunggulan yang sudah dibangun sejak dua ronde pertama tetap cukup untuk membawanya menjadi juara dengan margin 11 pukulan.
Bagi Amira, kemenangan ini bukan sekadar gelar pertama Best Gross Overall. Poin WAGR yang diperoleh juga menjadi langkah awal menuju target yang lebih panjang.

”Setelah ini saya ingin memenangkan lebih banyak turnamen dan meraih lebih banyak poin WAGR. Saya juga berharap bisa menjadi pegolf profesional ketika dewasa nanti, jadi kemenangan ini mungkin menjadi awal menuju ke jenjang tersebut,”
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada IJG, orang tua, sponsor, dan pihak-pihak yang mendukung perjalanan golfnya.
”Saya juga berterima kasih kepada IJG yang telah mengadakan turnamen di seluruh Indonesia. Saya sangat senang bisa ikut serta dan meraih kemenangan Best Gross Overal pertama ini. Terima kasih juga kepada orangtua yang selalu mendukung perjalanan karier golf saya, termasuk juga kepada para sponsor yang terus mendukung saya, juga semua orang yang selama ini mendukung sehingga saya bisa sampai ke titik ini.”
Approach shot yang solid menjadi salah satu kekuatan utamanya. Selain kemampuan teknis, Amira juga menunjukkan ketenangan dalam menjaga fokus ketika permainan tidak berjalan sesuai rencana.
”Saya berusaha tetap fokus pada permainan saya sendiri agar tidak terdistraksi oleh pemain lain dan tidak mudah kecewa setelah melakukan kesalahan,”
Pada putaran final, Amira sempat berada di posisi 1-under setelah mencetak birdie di hole 15, hole pertamanya hari itu. Permainannya kemudian sedikit menurun dengan tambahan 4-over dalam lima hole berikutnya. Namun, ia mampu kembali bangkit dengan mencetak birdie di hole 3 dan 5.
Empat hole terakhir kembali menjadi tantangan. Amira mencatat 3-over, termasuk bogey di hole terakhir ketika kondisi lapangan mulai gelap. Meski demikian, keunggulan yang telah dibangun sejak dua ronde awal tetap cukup untuk mengantarkannya menjadi juara dengan margin 11 pukulan.
Bagi Amira, kemenangan ini bukan sekadar gelar Best Gross Overall pertamanya. Poin WAGR yang diraih juga menjadi langkah awal menuju target jangka panjangnya.
”Setelah ini saya ingin memenangkan lebih banyak turnamen dan mengumpulkan lebih banyak poin WAGR. Saya juga berharap bisa menjadi pegolf profesional ketika dewasa nanti, jadi kemenangan ini menjadi awal menuju jenjang tersebut,”
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada IJG, orang tua, sponsor, serta seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan golfnya.
”Saya juga berterima kasih kepada IJG yang telah mengadakan turnamen di seluruh Indonesia. Saya sangat senang bisa ikut serta dan meraih kemenangan Best Gross Overall pertama ini. Terima kasih juga kepada orang tua yang selalu mendukung perjalanan karier golf saya, termasuk para sponsor dan semua pihak yang telah mendukung saya hingga saat ini.”
Noah Raih Kemenangan Perdana
Di kelompok putra, Francesco Jacob Noah Hartono meraih kemenangan pertamanya di ajang Indonesian Junior Golf. Pegolf berusia 15 tahun tersebut memulai putaran final dari posisi teratas bersama Fadhlan Azzam Atmajah setelah keduanya sama-sama mengoleksi 149 pukulan dari dua ronde.
Birdie di hole 17, yang menjadi hole ketiganya pada putaran final, menjadi awal yang baik bagi Noah. Dengan pemahaman lapangan yang semakin baik setelah dua hari bermain, ia kemudian menghasilkan satu-satunya ronde di bawah par sepanjang turnamen.

”Untuk hari pertama saya lebih berusaha untuk mengenal lapangannya karena memang hanya sekali melakukan putaran latihan,”
”Lalu hari kedua mulai berusaha untuk bermain lebih bagus lagi, tapi memang beberapa kali putting saya tidak masuk. Dan hari ketiga, posisi pin-nya terlihat mirip dengan hari pertama sehingga membuat saya merasa lebih yakin dan bermain lebih agresif.”
Noah sempat kehilangan pukulan melalui bogey di hole 2 dan 3. Namun, empat birdie di hole 1, 6, 8, dan 10 membuatnya mampu menutup putaran dengan skor 3-under 69.
Birdie di hole 17, yang menjadi hole ketiganya pada putaran final, menjadi awal yang positif bagi Noah. Dengan pemahaman lapangan yang semakin baik setelah dua hari bermain, ia kemudian mencatatkan satu-satunya ronde di bawah par sepanjang turnamen.
”Pada hari pertama saya lebih fokus untuk mengenal lapangan karena hanya sempat melakukan satu putaran latihan,”
”Hari kedua saya mencoba bermain lebih baik, tetapi beberapa putt belum masuk. Pada hari ketiga, posisi pin terlihat mirip dengan hari pertama sehingga saya lebih percaya diri dan bermain lebih agresif.”
Noah sempat kehilangan momentum dengan bogey di hole 2 dan 3. Namun, empat birdie di hole 1, 6, 8, dan 10 membantunya menutup putaran dengan skor 3-under 69.
Hasil tersebut mengantarkannya menjadi juara dengan keunggulan delapan pukulan atas Fadhlan yang mencatat 77 pada ronde terakhir.
”Yang nomor satu pastinya senang (bisa menang),”
”Latihan yang saya lakukan selama ini akhirnya bisa membuahkan hasil berupa kemenangan ini, jadi rasanya menyenangan.
”Saya ingin memenangkan lebih banyak turnamen lagi. Dengan target seperti ini, tentunya saya juga harus lebih rajin berlatih lagi.”

Dua kemenangan tersebut menunjukkan dua sisi menarik dari IJG Premier League 7. Amira membawa pulang pencapaian historis sekaligus poin WAGR pertamanya, sementara Noah akhirnya menemukan kemenangan yang selama ini dikejarnya. Di tengah persaingan golf junior yang terus berkembang, keduanya memberi gambaran tentang bagaimana pengalaman bertanding, konsistensi, dan proses latihan mulai membentuk generasi berikutnya.
”Tentu saya sangat senang bisa menang,”
”Latihan yang saya lakukan selama ini akhirnya membuahkan hasil, jadi rasanya sangat menyenangkan.”
”Saya ingin terus memenangkan lebih banyak turnamen. Untuk itu, saya harus berlatih lebih disiplin lagi.”
Dua kemenangan tersebut mencerminkan dua pencapaian penting di IJG Premier League 7. Amira mencatatkan sejarah sekaligus meraih poin WAGR pertamanya, sementara Noah akhirnya mengamankan kemenangan yang telah lama ia kejar. Di tengah perkembangan pesat golf junior Indonesia, keduanya menjadi gambaran bagaimana pengalaman bertanding, konsistensi, dan proses latihan membentuk generasi baru atlet golf yang menjanjikan.
