Kejurnas Golf Junior 2026: Abigail Rhea Melawan Ketidakmungkinan di Jakarta Golf Club

4 min read
Social Share

Babak kedua Kejuaraan Nasional Golf Junior 2026 di Jakarta Golf Club menghadirkan ujian berat bagi seluruh peserta. Hujan deras yang turun sejak pagi, udara dingin yang menusuk, serta kondisi lapangan yang semakin tidak bersahabat membuat turnamen sempat mengalami penangguhan pertandingan. Fairway yang becek, bola yang sulit dikontrol, dan green yang melambat memaksa para pegolf junior Indonesia bermain jauh dari kondisi ideal.

Meskipun bermain di lapangan yang kurang menguntungkan serta mengalami beberapa penundaan akibat hujan, Pegolf muda asal Bali Abigail Rhea masih tampil apik di bakak kedua Kejurnas Golf Junior 2026 yang digelar di Jakarta Golf Club, Rawamangun pada 20-22 Januari 2026 / Foto: Dok. Media PB PGI

Namun, kendati kehilangan banyak angka serta berada di tengah situasi yang nyaris melawan ketidakmungkinan itu, Abigail Rhea tampil sebagai salah satu figur yang mencerminkan esensi golf sesungguhnya: ketenangan, kesabaran, dan kemampuan beradaptasi.

“Saya sangat bersyukur tetap bisa bermain dan menikmati pertandingan meski cuaca benar-benar ekstrem. Hujan deras membuat lapangan sangat becek, bahkan ini salah satu kondisi terberat yang pernah saya alami. Tapi justru di situ mental dan konsistensi diuji, dan saya bangga banyak pemain tetap bisa tampil bagus di tengah situasi sulit seperti ini,” ujar Abigail.

Cuaca ekstrem di Jakarta Golf Club bukan hanya menguji teknik, tetapi juga daya tahan fisik dan emosi. Udara dingin yang tidak biasa bagi turnamen di Jakarta membuat ritme permainan kerap terputus, terlebih dengan adanya penangguhan pertandingan yang memecah konsentrasi pemain. Dalam kondisi seperti ini, Abigail menekankan bahwa tantangan terbesar justru datang dari dalam diri.

“Di kondisi seperti ini yang paling berat bukan cuma fisik, tapi emosi. Saat mulai lelah dan frustrasi, saya biasanya menyendiri sejenak dan melakukan meditasi sederhana di lapangan—menutup mata, menarik dan menghembuskan napas sebelum tee off. Saya mencoba menikmati permainan dan tetap positif, karena kesalahan sudah lewat dan masih ada hole berikutnya. Marah pada diri sendiri justru tidak membantu dalam golf,” ungkapnya.

Pendekatan mental tersebut menjadi kunci bagi Abigail untuk tetap menjaga performa di tengah lapangan yang tidak menguntungkan. Tanpa preferred lies, para pemain benar-benar dipaksa bermain apa adanya, membaca setiap kondisi tanah, dan menerima hasil pukulan dengan lapang dada. Sebuah situasi yang menuntut kedewasaan bermain.

Abigail menyadari bahwa setiap pemain memiliki cara berbeda dalam menghadapi tekanan. Namun baginya, kontrol diri dan evaluasi menjadi fondasi penting, terutama menjelang putaran penentuan.

“Setiap pemain punya cara berbeda melepas emosi. Ada yang justru main lebih agresif dan bagus saat marah, tapi buat saya kuncinya tetap kontrol diri karena final round adalah yang paling penting. Setelah ini saya akan kembali ke driving range untuk evaluasi, termasuk green in regulation dan putting saya kurang maksimal hari ini, terutama setelah hujan. Saya ingin menemukan kembali impact yang square dan nyaman dulu, baru fokus ke akurasi, supaya bisa tampil lebih siap di putaran terakhir,” jelasnya.

Menatap babak final, Abigail memilih untuk tidak terbebani target hasil. Fokusnya justru tertuju pada progres pribadi, adaptasi, dan menikmati setiap momen di lapangan—sebuah filosofi yang mencerminkan kematangan berpikir seorang atlet muda.

“Dengan kondisi lapangan seperti ini kami benar-benar beradaptasi dengan alam. Untuk final round, fokus saya bukan tekanan hasil, tapi progress dan enjoyment. Saya ingin lebih percaya diri, berpikir positif, dan lebih cepat beradaptasi dengan lapangan. Besok saya ingin main lebih santai, lebih banyak menikmati momen dan course-nya. Soal tempo, saya memang tipe pemain cepat—kalau terlalu lama justru banyak pikiran muncul. Jadi kuncinya buat saya tetap simple, stay confident, dan enjoy the moment,” tutup Abigail.

Di hari kedua Kejurnas Golf Junior 2026, juara bertahan Kenneth Henson Sutianto justru tampil apik serta mampu menguasai puncak klasemen sementara. / Foto: Dok. Media PB PGI

Sementara itu di sektor putra, pegolf asal DKI Jakarta, Kenneth Henson Sutianto, di babak kedua tadi sukses mengambil alih posisi puncak klasemen pertama yang sebelumnya dikuasai oleh Axel Keefe Pangestu. Kenneth—yang juga merupakan juara Kejurnas Golf Junior 2025, menyelesaikan babak kedua dengan apik. Kenneth bahkan menjadi satu-satunya pegolf yang berhasil meraih skor under, yaitu dua di bawah par -2 dengan total 140 pukulan.

Penampilan Abigail Rhea di babak kedua Kejurnas Golf Junior 2026 bukan semata soal skor, melainkan tentang karakter. Di tengah cuaca ekstrem, lapangan becek, dan situasi yang jauh dari ideal, ia menunjukkan bahwa golf adalah permainan melawan diri sendiri, tentang bagaimana tetap berdiri tegak ketika kondisi mencoba meruntuhkan segalanya. Sebuah pelajaran berharga dari seorang pegolf muda yang tengah menempa mental juara. Apalagi, pegolf asal Bali ini juga akan tampil di dua event berikutnya yakni Indonesian Women’s Open dan Women’s Amateur Asia-Pacific, New Zealand 2026. 

You May Also Like

More From Author