OUR NETWORK

Sustainable Golf Trip in The Future

Bagaimana keberlanjutan bisnis golf trip selama pandemik dan pasca pandemik
Parahyangan Golf di Kota Baru Parahyangan, Bandung adalah lapangan baru yang menyimpan berbagai potensi dan memiliki desain khas copurse champion

Harus diakui bahwa virus Coron menjadi penyebab menurunnya perekonomian di segala sektor. Pariwisata adalah salah satu sektor yang sangat terdampak dari merebaknya virus ini. Bahkan, banyak golf trip yang sudah terencana jauh-jauh hari mendadak dibatalkan.

Akhir 2019, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata mengungkapkan bahwa wisata sport utamanya adalah golf bisa dimanfaatkan untuk mendulang devisa. Pemerintah menganggap bahwa golf cukup seksi untuk menarik wisman. Namun, sebelum lebih lanjut membahas strategi yang bisa secara efektif mendatangkan golfer-golfer asing untuk bermain di Indonesia, seperti apakah bisnis wisata golf yang ada di Indonesia?. Membahas isu ini, GolfMagz telah berhasil menemui agent golf trip dan travel consultant yang telah lama berkecimpung di dunia ini:

Apa yang menyebabkan golf trip menjadi pilihan bisnis Anda?

Arjuna: Saya main golf dan saya mengerti bisnis ini. Intinya saya tahu persis apa yang bisa saya jual dan tentu saja bisa saya pertanggungjawabkan.

Baltic: Kami melihat ada potensi yang bisa digarap melalui golf. Selain itu, di tahun 2006, ketika Baltic berdiri, belum ada yang serius dan profesional menjalankan wisata golf.

Seberapa optimis Anda dapat menjual golf Indonesia keluar?

Arjuna: Menurut saya, golf di Indonesia masih yang terbaik. Semua fasilitas golf di Indonesia itu ada. Meski di Hawaii pun, fasilitasnya masih lebih bagus di lapangan kita. Semua standar lapangan, caddy, restoran dan semua pendukungnya Indonesia masih yang terbaik.

Baltic: Secara bisnis, golf trip ini potensinya luar biasa pesat. Golf di Indonesia masih sangat diminati opleh pasar Asia Tenggara.

Dalam sepuluh tahun terakhir pertumbuhan golfer luar yang datang di Indonesia berapa banyak?

Arjuna: Inilah kelemahan Pemerintah kita. Pemerintah saya nilai tidak pernah serius menganggap wisata golf. Seringnya, mereka mencampur adukkan antara wisata reguler dan wisata golf. Kalau dibuat data, golfer luar yang datang ke Indonesia itu banyak. Golf tidak pernah dikemas secara profesional.

Baltic: Menurut kami, perkembangan golf bisa mencapai 15-20% dalam setahun. Artinya, golf dalam sepuluh tahun terakhir potensinya masih besar. Leisure yang terkait dengan golf juga bisa digarap dan ditingkatkan.

Apa alasan para golfer luar bersedia main ke Indonesia?

Arjuna: Paling umum karena murah. Tarif main golf weekday di salah satu lapangan di seputaran Jakarta, misalnya, harganya masih sangat terjangkau. Apalagi, sekarang ini banyak lapangan yang memberikan promo.

Baltic: Ada dua tipe golfer. Golf and leisure dan Golf and entertainment. Contoh, Bali identik dengan golf dan leisure, sementara Jakarta adalah golf dan entertainment. Ini masih diminati oleh golfer luar.

Selain main golf, apa yang biasanya para golfer cari ketika main di sini?

Arjuna: Karena core bisnis saya adalah travel consultant, biasanya para golfer mencari aktivitas yang menarik baik outbond atau inbond. Wisata kuliner juga sangat diminati para golfer luar.

Baltic: Tergantung wilayah mainnya: ada golfer yang suka makan contohnya golfer yang main ke Yogyakarta. Kalau sudah ke Bali, para golfer suka melihat budaya. Tapi, hal-hal ini bukan sesuatu yang wajib.

Sebaliknya, berapa banyak golfer indonesia yang main keluar?

Arjuna: Jika dibanding dengan golfer yang datang ke Indonesia, golfer lokal yang main keluar tidak sebanyak yang datang kesini. Harga main di luar itu jauh lebih mahal dibanding di Indonesia.

Baltic: Saya kira lumayan banyak, ya. Ada ratusan komunitas golf yang ada di Indonesia. Tiap tahun mereka banyak yang main keluar. Bisa jadi ada ribuan golfer tiap tahunnya.

Kembali ke soal campur tangan Pemerintah dalam wisata golf, Bentuk peran serta Pemerintah yang seperti apa yang bisa membantu wisata golf di Indonesia?

Arjuna: Menurut saya, Pemerintah harus memiliki divisi khusus yang menangani wisata golf. Wisata golf itu tidak bisa diurusi oleh mereka yang tidak mengerti golf. Pemerintah minimal mengajak orang-orang seperti kami untuk duduk bersama.

Baltic: Saya rasa kita harus duduk bersama baik Pemerintah, lapangan golf dan golf tour agent. Ada banyak pula yang harus dibahas, baik promosi dan strategi lainnya. Sebenarnya, promosi golf di Indonesia itu ada tapi kurang tepat. Jangan-jangan biaya yang dikeluarkan besar tapi hasilnya dikit, pun sebaliknya. Ini yang harus kita bahas bersama. Soal pajak saja, banyak lapangan yang ngos-ngosan. ini keluhan yang sangat nyata, loh.

Belakangan wisata golf di Vietnam dan thailand sangat pesat. Apa yang bisa kita pelajari dari mereka?

Arjuna: Sebenarnya tidak ada. Vietnam itu ramai karena baru saja. Soal harga dan pelayanan kita tidak kalah. Wisata golf di Indonesia itu seperti mutiara yang sudah lama tidak digosok. kalau Thailand, ada banyak hal yang bisa kita adopsi. Mereka serius menggarap potensi wisata golf. Bahkan, Mereka sampai membuatkan banyak paket golf bagi wisatawan.

Baltic: Perkembangan golf di Vietnam itu mengerikan. Luar biasa pesat. Dari Vietnam kita bisa belajar: Pembangunan golf di Vietnam berada di waktu yang tepat. Promosi mereka juga gencar. Kualitas mereka semakin tahun semakin ditingkatkan.

Sepuluh hingga dua puluh tahun kedepan, Bagaimana prospek wisata golf di Indonesia?

Arjuna: Saya rasa masih akan seperti ini. Selama Pemerintah tidak pro aktif, ya, akan jalan di tempat. Coba bayangkan, di Korea dan Jepang ketika musim dingin, golfer mereka lebih senang main ke Vietnam atau Thailand, tidak sampai 5% yang mau ke Indonesia. Sangat disayangkan, bukan.

Baltic: Secara jangka panjang, kalau speed prestasi dan industri golf kita begini-begini saja, bisa jadi bisnis wisata golf juga terdampak. Kalau pelaku industrinya suffer, akibatnya maintenance dan kualitas lapangan menurun. Sementara negaranegara lain malah menaikkan kualitas mereka, otomatis para  golfer memilih kelas yang lebih tinggi. Sangat masuk akalkan.

Comments