Jennifer Quinn Effendi menutup Kartini Cup dengan putaran final yang menunjukkan ketenangan dan konsistensi. Memasuki hari terakhir sebagai pemimpin klasemen individu, pegolf Indonesia berusia 14 tahun itu mendapat tekanan dari Thanatchaporn Insang asal Thailand. Quinn meresponsnya dengan permainan 7-under par tanpa bogey untuk mengamankan gelar juara individu di Hong Kong Golf Club.
Quinn menyelesaikan 72 hole dengan total 23-under par (-23), unggul satu pukulan atas Insang yang finis dengan 22-under par (-22). Persaingan keduanya berlangsung ketat hingga putaran terakhir, tetapi Quinn mampu mempertahankan kendali permainan dan tidak memberikan ruang bagi pesaing terdekatnya untuk mengambil alih posisi teratas.

Performa pada babak final juga mencerminkan cara Quinn menjaga permainannya sepanjang turnamen. Tujuh birdie tanpa satu pun bogey membuatnya mampu mencatatkan tujuh pukulan di bawah par sekaligus mempertahankan keunggulan yang telah dibangunnya sejak putaran kedua.
Quinn mengaku puas dengan permainan yang ditampilkannya pada hari terakhir. Menurutnya, salah satu kunci keberhasilan adalah menjaga permainan tetap stabil dari awal hingga akhir, meski masih ada sejumlah peluang birdie yang belum berhasil dikonversi.
“Saya sangat puas dengan permainan hari ini. Permainannya cukup stabil, dari hole pertama hingga hole terakhir. Semuanya berjalan maksimal, meskipun ada beberapa peluang birdie yang terlewat,” ujarnya.
Gelar tersebut diraih bukan hanya melalui permainan di lapangan, tetapi juga berkat persiapan yang dilakukan sebelum dan selama turnamen. Sang ayah, David Effendi, mengatakan bahwa pesan yang disampaikannya kepada Quinn sebelum putaran final sederhana: tetap tenang dan percaya pada kemampuannya.
“Saya hanya bilang kepada Quinn, bermainlah dengan tenang dan tunjukkan kepada dunia bahwa di Indonesia ada Jennifer Quinn,” kata David.
Persiapan fisik juga menjadi bagian dari rutinitas Quinn. David menyebut putrinya sudah terbiasa menjalani latihan di lapangan dengan berjalan kaki selama beberapa hari berturut-turut, termasuk saat mempersiapkan diri di Kediri.
“Quinn sudah terbiasa berlatih di lapangan dengan berjalan kaki selama empat hari berturut-turut. Latihannya di Kediri saja,” ujarnya.
Rutinitas tersebut menjadi bagian dari persiapan untuk menghadapi tuntutan turnamen empat putaran. Quinn sebelumnya juga menekankan pentingnya makan dan beristirahat setelah menyelesaikan ronde untuk menjaga stamina. Pendekatan itu membantunya tetap tampil stabil hingga hari terakhir.
Bagi Quinn, kemenangan di Hong Kong juga memiliki arti lebih dari sekadar gelar individu. Ia merasa bersyukur sekaligus bangga dapat membawa nama Indonesia dalam persaingan tingkat Asia Tenggara.
“Tentunya saya sangat bersyukur dan bangga bisa memenangkan turnamen ini serta membawa nama baik Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, di nomor beregu, Quinn bersama Maureen Shavelle Yose dan Abigail Rhea berhasil mempertahankan posisi Indonesia di peringkat kedua, di belakang Thailand. Hasil tersebut melengkapi perjalanan Indonesia di Kartini Cup, dengan Quinn merebut gelar individu dan tim Indonesia finis sebagai runner-up beregu.
Berada di posisi teratas sejak putaran kedua hingga akhirnya mengunci gelar juara dengan putaran 7-under tanpa bogey, Quinn menutup Kartini Cup dengan catatan 23-under par dan keunggulan satu pukulan atas pesaing terdekatnya. Sebuah kemenangan yang lahir dari permainan stabil, persiapan konsisten, dan ketenangan hingga pukulan terakhir.
