Setelah 17 tahun penantian, Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah ajang paling prestisius untuk golf amatir putri Asia-Pasifik, . Turnamen edisi ke-46 ini berlangsung pada 12–15 Mei 2026 di Sentul Highlands Golf Club, menghadirkan atmosfer kompetisi elite sekaligus nuansa penghormatan budaya yang begitu kuat. Bagi Indonesia, ini menjadi kali keempat menjadi tuan rumah setelah edisi 1980, 1994, dan 2009 di Bali, sekaligus menandai kembalinya turnamen ini ke Tanah Air setelah hampir dua dekade.

Edisi tahun ini terasa lebih emosional karena menjadi bentuk penghormatan bagi mendiang Her Majesty (H.M.) Queen Sirikit yang wafat tahun lalu. Sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai simbol persahabatan dan diplomasi olahraga di kawasan Asia-Pasifik itu kembali dikenang melalui semangat kompetisi yang hidup di lapangan golf. Dalam upacara pembukaan, Duta Besar Thailand untuk Indonesia, Prapan Disyatat, menegaskan makna mendalam turnamen tahun ini.
“Turnamen tahun ini memiliki makna yang sangat mendalam. Kita semua berkumpul tidak hanya untuk berkompetisi, tetapi juga untuk mengenang sosok H.M. Queen Sirikit yang baru saja meninggalkan kita. Visi beliau dalam mempererat persahabatan antarnegara melalui golf akan terus hidup di lapangan ini,” ujar H.E. Mr. Prapan Disyatat.

Tidak hanya menjadi panggung olahraga, Queen Sirikit Cup juga membawa semangat persatuan kawasan Asia-Pasifik melalui golf. Sebanyak 13 negara anggota Asia-Pacific Golf Confederation (APGC) ambil bagian tahun ini, yakni China, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Kehadiran negara-negara dengan tradisi golf kuat seperti Jepang, Korea Selatan, Thailand, hingga Selandia Baru membuat level kompetisi diprediksi berlangsung sangat ketat sejak hari pertama.
Tahun ini, Indonesia menurunkan tiga talenta muda terbaiknya: Bianca Naomi Laksono, Abigail Rhea Soeryo Wiharko, dan Lydia Hawila Stevany Sitorus. Ketiganya datang membawa harapan untuk mengulang pencapaian bersejarah pada edisi 2023 di Filipina.

Kapten tim Indonesia, Alga Topan, menilai persaingan tahun ini akan menjadi salah satu yang paling kompetitif dalam beberapa edisi terakhir. Negara-negara unggulan datang dengan skuad terbaik mereka, membuat setiap ronde akan menjadi pertarungan konsistensi, mental, dan strategi di lapangan pegunungan Sentul Highlands yang dikenal menantang.
“Target kami tiga besar. Mudah-mudahan kalau bisa minimal lima besar. Itu target terbaik yang realistis jika melihat semua pemain yang datang minggu ini adalah pemain-pemain terbaik,” kata Alga.
Sebagai bentuk keseriusan menghadapi turnamen ini, tim Indonesia telah menjalani pemusatan latihan selama satu pekan penuh di Sentul Highlands Golf Club. Adaptasi terhadap kontur lapangan, perubahan elevasi, serta kondisi green menjadi fokus utama agar para pemain mampu tampil maksimal di hadapan publik sendiri.
“Untuk Queen Sirikit Cup ke-46 tahun ini, kami sudah melakukan pelatihan sejak satu minggu yang lalu. Kami sentralisasi di Sentul Highlands Golf Club,” sambung Alga.
Di tengah atmosfer kompetitif Asia-Pasifik, Queen Sirikit Cup 2026 menjadi lebih dari sekadar perebutan gelar. Turnamen ini memperlihatkan bagaimana golf mampu menjadi ruang pertemuan budaya, persahabatan antarnegara, sekaligus panggung lahirnya generasi baru pegolf putri Asia. Bagi Indonesia, menjadi tuan rumah bukan hanya soal penyelenggaraan, tetapi juga kesempatan menunjukkan perkembangan ekosistem golf nasional kepada kawasan dan dunia.
