Golf amatir Asia kembali bertemu di Hong Kong. Sebanyak 10 negara akan berpartisipasi dalam 63rd Southeast Asian Amateur Golf Team Championships, yang berlangsung pada 15–18 September 2026 di Hong Kong Golf Club, Fanling.
Diselenggarakan sejak 1961, kejuaraan ini memiliki sejarah panjang dalam perkembangan golf di kawasan Asia Tenggara. Berawal dari gagasan Tunku Abdul Rahman, turnamen ini kemudian berkembang menjadi agenda tahunan yang mempertemukan pegolf dari berbagai negara. Saat ini, empat trofi menjadi bagian utama kejuaraan: Putra Cup, Santi Cup, Lion City Cup, dan Kartini Cup. Bagi golf Asia, kejuaraan ini memiliki karakter yang berbeda dari turnamen individual. Meskipun pemain bertanding secara individual di lapangan, hasil yang mereka raih turut menentukan pencapaian tim dan negara.
Tahun ini, Indonesia mengirim 13 pemain untuk berkompetisi di empat kategori.
Putra Cup: kembali ke persaingan utama
Di kategori utama, Putra Cup, Indonesia diperkuat oleh Kenneth Henson Sutianto, Jayawardana Dornan, Theodore Pradjoto Citoputra Tan, dan debutan asal Bali, Margoz Marvin Kamengmau.

Kenneth merupakan salah satu pemain dengan pengalaman kompetitif yang cukup luas. Ia telah tampil dalam sejumlah turnamen internasional dan regional, termasuk ketika ia tampil mejadi pegolf amatir terbaik di ajang Ciputra Golfpreneur Tournament 2026.
Jayawardana Dornan juga memiliki pengalaman di turnamen junior internasional. Selain sering tampil apik di berbagai kejuaraan regional di Thailand, Ia pernah tampil impresif di Medco-Pondok Indah Junior Golf Championship, salah satu turnamen junior internasional yang secara rutin mempertemukan pemain dari berbagai negara. Terakhir Jaya sukses menjuarai The JGS Indonesia Elite Junior International Championship yang digelar Mei lalu.
Sementara Theodore Pradjoto Citoputra Tan dan Margoz Marvin Kamengmau melengkapi komposisi Putra Cup. Keduanya juga telah memperoleh pengalaman melalui kompetisi junior dan amatir yang mempertemukan pemain Indonesia dengan peserta internasional.
Indonesia memiliki sejarah kuat di Putra Cup. Setelah menunggu 29 tahun, Indonesia kembali memenangkan trofi tersebut pada 2023 melalui Gabriel Hansel Hari, Jonathan Xavier Hartono, Rayhan Abdul Latief, dan Randy Arbenata Mohamad Bintang. Namun, gelar tersebut kemudian berpindah tangan. Indonesia finis di posisi keenam pada 2024, sementara Filipina menjadi juara dalam dua edisi terakhir.
Santi Cup: pengalaman internasional di sektor putri
Di Santi Cup, Indonesia menurunkan Isabella Sudarmanto, Sania Talita Wahyudi, dan Lydia H. Sitorus. Racikan pemain yang menggabungkan kekuatan pegolf amatir syarat pengalaman dan semangat segar menjadikan skuad ini energi baru yang patut diperhitungkan.

Isabella memasuki musim kompetisi dengan perkembangan yang positif. Setelah meraih kemenangan dalam salah satu turnamen amatir nasional yang masuk kalender WAGR, ia mulai tercatat dalam World Amateur Golf Ranking. Ia juga tampil kompetitif dalam sejumlah turnamen internasional di Indonesia sepanjang musim ini.
Lydia memiliki pengalaman menghadapi kompetisi regional dan internasional di level amatir. Konsistensinya di antara pemain putri terbaik Indonesia menjadikannya bagian penting dari skuad Santi Cup.
Sementara itu, Sania membawa pengalaman bertanding dalam format beregu setelah memperkuat Indonesia di SEA Games 2025 Thailand, ketika tim putri Indonesia meraih medali perunggu.
Ketiganya menghadirkan perpaduan pengalaman dan perkembangan yang menjanjikan bagi sektor putri Indonesia.
Lion City Cup: generasi yang mulai naik kelas
Untuk Lion City Cup, Indonesia mengandalkan Asyrafa Danish Suryanto, Eugene E. Tanyongjaya, dan William Justin Wijaya.

Asyrafa dan Eugene telah menghadapi kompetisi internasional dalam beberapa musim terakhir. Keduanya juga tampil dalam turnamen amatir yang diikuti peserta dari berbagai negara, termasuk Mandiri Ciputra Golfpreneur Junior World Championship, salah satu agenda junior internasional penting di Indonesia. Eugene bahkan sempat menjuarai salah satu seri turnamen amatir serta menjadi salah satu pegolf Indonesia dengan hasil menjanjikan pada edisi 2026, sementara Asyrafa terus berada dalam kelompok pemain muda teratas Indonesia.
William juga memiliki pengalaman menghadapi persaingan internasional di level junior dan amatir. Sering mengisi skuad Merah Putih, Perkembangannya terlihat dari kemampuannya bersaing dalam turnamen yang diikuti pemain dengan tingkat pengalaman lebih tinggi.
Lion City Cup menjadi ajang penting bagi ketiganya untuk menguji perkembangan tersebut dalam format beregu.
Kartini Cup: ramuan segar dari jalur berbeda
Di Kartini Cup, Indonesia menurunkan Jennifer Quinn Effendi, Abigail Rhea Soeryo Wiharko, dan Maureen Shavelle Jose.

Jennifer Quinn merupakan salah satu nama yang menonjol dalam kelompok junior putri Indonesia. Memiliki progress yang konsisten dan positif, pegolf putri muda asal Kediri, Jawa Timur ini tampil apik di berbagai kejuaraan nasional. Salah satu yang menonjol adalah dengan menjuarai dua turnamen yakni Kejurnas Amatir 2026 serta Medco-Pondok Indah Junior Golf Championship.
Abigail Rhea juga memiliki pengalaman menghadapi lawan-lawan internasional di kelompok junior. Tampil sebagai juara Kejurnas Junior 2026, menjadi bekal positif bagi pegolf asal Bali yang kini hijrah ke Jakarta ini.
Maureen melengkapi skuad Kartini Cup. Tampil konsisten dalam format beregu selama tiga hari pertandingan pada The Indonesia Pro-Am 2026 menjadi pengalaman berharga pagi Maureen.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya
Southeast Asian Amateur Golf Team Championships bukan sekadar turnamen yang hadir satu kali dalam kalender kompetisi. Setelah berlangsung selama lebih dari enam dekade, kejuaraan ini menjadi salah satu ajang untuk mengamati perkembangan golf amatir di kawasan Asia secara langsung.
Para pemain yang tampil saat ini berada dalam tahap perkembangan yang berbeda. Sebagian telah memperoleh pengalaman di SEA Games dan turnamen internasional, sebagian mulai masuk dalam WAGR, sementara yang lain masih membangun jam terbang melalui berbagai kompetisi.
Bagi Indonesia, proses tersebut memiliki arti penting. Golf amatir bukan hanya tentang mencatat skor rendah, tetapi juga membentuk pemain yang terbiasa menghadapi lapangan, lawan, dan situasi kompetitif di luar lingkungan mereka sendiri.
Dengan memasukkan skuad muda seperti Margoz Marvin Kamengmau, Isabella Sudarmanto, hingga Jennifer Quinn Effendi ke dalam tim inti, hal ini tentu menjadi sebuah formula menarik. Tiga pegolf muda dengan jam terbang kompetisi yang mumpuni diharapkan mampu memberikan semangat serta hasil yang positif bagi Tim Indonesia.
