OUR NETWORK

Warning For Weekend Golfer

 

Secara sederhana golf hanyalah persoalan mengayunkan stik, memukul bola dan memasukannya ke dalam lubang. Bahkan, olahraga golf juga tak harus berjalan kaki dari dan menuju di tiap hole-nya. Bisa mengendarai golfcart,  bukan tak jarang pula golf dilakukan sambil mengkonsumsi minuman keras.

Dengan stigma yang sangat sederhana ini, golf sering dianggap sebagai olahraga yang tak melelahkan. Tanpa resiko berarti dan mudah. Jika Anda juga menganggap demikian maka Anda harus mewaspadai berbagai cidera yang bisa kapan saja menyerang.

Ragam cidera yang biasa mendera para golfer adalah cidera pada lengan, sikut, bahu, pundak, leher, pinggul, lutut, engkel dan yang paling sering adalah cidera pada pinggang.

Berbagai cidera tadi akan lebih sering terjadi pada golfer dadakan atau golfer yang jarang bermain. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana: golfer dadakan biasanya meremehkan warming up atau pemanasan. Setibanya di lapangan golf, para weekender ini cenderung untuk langsung bermain tanpa pemanasan  berarti, itulah yang membuat pegolf seperti ini sangat rawan cidera ungkap Labana, seorang praktisi kesehatan yang berpraktek di Senopati Therapy Center

Lebih parah lagi, kebiasaan para golfer dadakan ini selain tidak melakukan pemanasan sebelum bermain adalah terlalu banyak mengkonsumsi karbohidrat sebelum dan sesudah bermain golf. Jika sudah demikian biasanya para golfer cenderung untuk malas berjalan kaki, konsentrasi tidak maksimal dan mudah emosi. Hasilnya, raihan skor pun tak seperti yang diharapkan.

Farrah Bachtiar yang juga chiropractor dan praktisi kesehatan di Senopati Therapy Center membenarkan bahwa para golfer yang sering ia tangani biasanya mengabaikan pemanasan. Dan hasilnya: cidera hingga berhari hari, ungkapnya. Nah, jika sudah terjadi cidera pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah sesegera mungkin mengkompres bagian yang sakit dengan air dingin atau ice pack. Lebih lanjut Farrah mengatakan bahwa ketika melakukan swing, pegolf sejatinya sedang melibatkan banyak jaringan otot. Ada otot yang harus rigid, ada yang harus kencang dan semua jaringan tersebut bekerja secara bersama-sama. Maka, sebelum terjadi korsleting jaringan diperlukan pemanasan yang cukup dan jika perlu melakukan pendinginan usai main.

Pemanasan yang baik tergantung dari usia pegolf. Untuk pegolf yang tidak pernah berolahraga,  pemanasan harus dilakukan lebih lama serta difokuskan pada bagian-bagian yang kaku.

Khusus untuk golfer yang telah terkena cidera, Farrah mengatakan bahwa di dunia chiropractic penanganan cidera karena olahraga akan ditangani secara menyuluruh. Tidak hanya berfokus pada daerah yang sakit, namun juga pada seluruh badan. Hal ini dilakukan karena golf juga berkenaan dengan benar salahnya postur badan ketika di dalam dan luar lapangan serta riwayat golfer.

Selain fokus pada masalah pemanasan, Labana yang juga sempat menggeluti olahraga golf mengatakan bahwa untuk mencapai performa yang baik golfer juga harus memerhatikan pola makan. Sebagai contoh adalah banyak golfer yang “ngos-ngosan” jika harus menempuh 18 hole tanpa golf cart. Asupan makanan yang lebih banyak karbohidrat daripada protein membuat tubuh para golfer cenderung mudah lelah. Itu baru dari karbohidrat, belum lagi santapan pasca golf seperti kambing guling serta aneka makanan bersantan yang semua mengandung kolesterol tinggi, tambah Labana.

Dua faktor diatas menjadi perhatian dari dua praktisi kesehatan Senopati Therapy Center ini. Pemanasan dan pola makan. Dalam golf, dua hal ini bisa sangat berpengaruh. Pemanasan berpengaruh pada  sistem kerja jaringan selama dan sesudah golf. Sedang, pola makan berpengaruh pada kekuatan dan stabilitas kerja jaringan.

Comments